Persaingan Perguruan Tinggi—Visibilitas Menentukan Peringkat

Peringkat perguruan tinggi baik dalam skala nasional, regional, maupun internasional, bagi sebagian orang cukup berpengaruh dalam memberikan gambaran mengenai kualitas perguruan tinggi yang nantinya menjadi pertimbangan seseorang dalam menentukan pilihan tempat studinya. Beberapa versi penilaian perguruan tinggi yang berskala internasional diantaranya adalah:

  1. Academic Ranking of World Universities (ARWU)
    Adapun enam indikator penilaian yang digunakan oleh ARWU adalah jumlah alumni yang memenangkan penghargaan nobel dan medali, jumlah peneliti yang menjadi rujukan yang dipilih oleh Thomson Scientific, jumlah artkel yang dipublikasikan dalam jurnal Nature and Science, jumlah artikel yang terindex dalam Science Citation Index dan Social Citation Index, dan performa per kapita terkait ukuran institusi. Metode penilaian ini diterapkan sejak tahun 2003.
  2. Times Higher Education Supplement (THES)/QS World University Rankings
    Metode ini digunakan QS sejak tahun 1983 melalui:
    -Survey online kepada akademisi di seluruh dunia dengan responden yang dipilih secara acak dari dua database yaitu The World Scientific (www.worldscientific.com) dimana 18000 alamat email dipilih secara acak dan juga dari International Book Information Service (IBIS) (www.mardev.com). Penilaian ini berbobot 40% dan tidak memperbolehkan responden memberikan review atas kampusnya sendiri.
    -Survey online terhadap pegawai dari berbagai perusahaan lulusan perguruan tinggi. Penilaian ini berbobot 10%.
    -Faculty Student Ratio yang berbobot 20%
    -Citations per Faculty yang berbobot 20%
    -Proporsi fakultas internasional yang berbobot 5%
    -Proporsi mahasiswa internasional yang berbobot 5%

    image
  3. Web Popularity Rank
    Beberapa organisasi perguruan tinggi di seluruh dunia yang tergabung dalam 4icu.org melakukan penilaian untuk menentukan peringkat perguruan tinggi berdasarkan popularitas website perguruan tinggi yang dilihat dari:
  4. Webometrics—World Universities Ranking on The Web
    Webometrics ranking mengukur volume, visibilitas, dan pengaruh halaman-halaman website yang dipublikasikan oleh perguruan tinggi dengan penekanan khusus pada output scientific (paper yang menjadi referensi, kontribusi konferensi, proceedings, monograf, thesis, dll), memperhitungkan material lainnya (kursus, seminar, dokumentasi workshop, perpustakaan digital, databases, multimedia, halaman personal, dll), serta informasi general institusi seperti departemen, kelompok riset, supporting service, dan orang-orang yang bekerja atau menuntut ilmu di perguruan tinggi tersebut. Metode ini mulai diterapkan Webometrics sejak tahun 2004.

Dari keempat metode tersebut, kita dapat melihat bahwa pada dasarnya penilaian-penilaian perguruan tinggi terbaik tersebut sebagian besar dilakukan berdasarkan kuantitas output (hasil riset) yang dihasilkan dari setiap perguruan tinggi, baik itu paper, laporan penelitian, jurnal, proceeding, konferensi, seminar, dll, yang terpublikasikan di jurnal-jurnal internasional terkenal seperti Nature and Science misalnya, tetapi kurang menitikberatkan pada kualitasnya. Padahal kadang-kadang penilaian tersebut menjadi acuan sebagian besar orang dalam memilih perguruan tinggi terbaik hingga akhirnya menjadi perguruan tinggi idaman. Oleh karena itu, dalam penilaian tersebut tiga perguruan tinggi favorit Indonesia (ITB, UGM, UI) masih memiliki peringkat dalam kategori 400 besar dan berdasarkan peringkat Asia masih termasuk dalam peringkat 100 besar pada tahun 2009. Padahal kualitas perguruan tinggi tersebut belum tentu sesuai dengan yang direpresentasikan oleh nilai-nilai berdasarkan parameter yang digunakan dalam metode-metode tersebut. Hal ini dapat dijelaskan melalui beberapa fakta berikut, ITB misalnya:

  1. Paper Prof.DR.Ir. Sri Widiyantoro (ITB) berjudul “The Evidence for deep mantle circulation from Global tomography” yang dimuat di jurnal sangat bergengsi di dunia “Nature” volume 386, Tahun 1997, misalnya telah dirujuk 576 kali.
  2. Sri Widiyantoro telah menulis 18 paper yang dimuat di jurnal-jurnal papan atas, selain Nature juga antara lain dimuat di jurnal sangat kredibel di dunia yakni “Science”, “Review of Geophysics”, “Journal of Geophysical Research-Solid Earth”, dan “Earth and Planetary Science Letters”. Total Times Cited (jumlah paper dirujuk) Sri Widiyantoro versi Scopus adalah 1.472 sedangkan versi ISI Web of Knowledge adalah 1.240, merupakan yang tertinggi di Asean.

Selain itu masih banyak dosen lainnya yang hasil karyanya dirujuk (jumlah times-cited nya) hingga ratusan seperti Benjamin Soenarko, Halim M, Noer AS, Soemarsono, Hidayat R, Wilson W. Wenas, Hakim EH, Wiramihardja SD, Ariando, Firman T, Gusnidar T, Pancoro A, Onggo D, Linaya C, Arif I, Herman, Suwono  A, Hidayat T, Akhmaloka, Priadi B, Cahyati, Wenten IG, Hadi S,  Adisasmito S, Wurjanto A, Herdianita NR, Rusdi A, Widjaja J, Hasanuddin ZA, Retnoningrum DS, Baskoro ET, Sutjahja IM, Iskandar DT, Dahono P, Arismunandar dan lain-lain.

Pencitraan perguruan tinggi menjadi sangat penting untuk meningkatkan visibilitasnya di mata publik, baik nasional maupun internasional yang nantinya ternyata sangat berpengaruh terhadap peringkat perguruan tinggi tersebut. Namun, sayangnya visibilitas tersebut cenderung identik dengan kuantitas daripada kualitas. Dua hal tersebut penting untuk dijadikan pertimbangan oleh perguruan tinggi di Indonesia. Jika kita sudah mempunyai kualitas yang baik, berarti langkah penting berikutnya untuk meningkatkan peringkat kita adalah melalui peningkatan kuantitas. Misalnya melalui pemberian insentif berupa bonus besar kepada dosen-dosen dan mahasiswa agar papernya dimuat di jurnal internasional paling tidak di jurnal internasional kelas dua (second tier) dengan sedikit times-cited, seperti yang telah diterapkan di Thailand dan Malaysia.

Selain peningkatan kuantitas dan kualitas paper yang dimuat dalam jurnal internasional, pencitraan juga dapat dilakukan melalui seminar-seminar, konferensi, dan workshop yang berskala internasional yang hasilnya dapat dibukukan dan dipublikasikan sehingga kemudian diindex di Scopus dan ISI Knowledge. Untuk menghasilkan riset-riset yang berkualitas juga tentunya memerlukan dukungan dana yang cukup besar yang perlu dipertimbangkan karena hal ini juga yang membedakan perguruan tinggi di Singapura dengan perguruan tinggi lainnya di Asia Tenggara, di mana dana riset yang dikucurkan kepada perguruan tinggi di Singapura (National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU)) misalnya sudah setara dengan dana riset yang dikucurkan di MIT atau pun Harvard University.

Pencitraan website juga dapat dilakukan melalui update website setiap hari atau setiap ada momen-momen dan informasi penting terkait perguruan tinggi dan mahasiswanya, melalui penyelenggaraan lomba seperti lomba blog yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia (Lomba blog UII) misalnya, dan juga melalui penyediaan informasi general perguruan tinggi serta informasi penting lainnya yang dibutuhkan mahasiswa sehingga mahasiswa mudah mengakses informasi dan dapat mengandalkan website perguruan tingginya sebagai sumber informasi terpercaya. Hal ini nantinya akan meningkatkan traffic website perguruan tinggi dan tentunya berpengaruh besar terhadap visibilitas perguruan tinggi tersebut.

Mungkin tidak semua orang memilih perguruan tinggi idamannya berdasarkan peringkat yang dipublikasikan oleh lembaga-lembaga di atas, banyak faktor yang menentukan pilihan seseorang terhadap perguruan tinggi idamannya misalnya faktor kelengkapan dan kenyamanan fasilitas, kedekatan dengan tempat tinggal, ketersediaan program studi yang diinginkan, biaya kuliah, biaya hidup di wilayah tempat perguruan tinggi berada, dan lain-lain. Hal ini memberikan sebuah gambaran bahwa karakteristik perguruan tinggi idaman itu sangat relatif, hanya saja karena sistem penilaian yang banyak diterapkan mengacu pada parameter-parameter tersebut dan internet menjadi andalan sumber informasi tercepat masa kini, jika kita memang tidak memiliki acuan kriteria perguruan tinggi yang menjadi idaman maka dengan sekilas saja kita menuju mesin pencari di internet, kita dapat mengklaim kualitas perguruan tinggi berdasarkan peringkatnya dalam daftar yang disajikan oleh lembaga-lembaga tersebut dan langsung menjadikan salah satu atau beberapa diantaranya sebagai sebagai perguruan tinggi idaman.

Namun, menurut saya kualitas perguruan tinggi tetap menjadi sorotan utama karena biasanya calon mahasiswa akan lebih memusatkan perhatian pada alumni-alumninya (perusahaan yang merekrut atau posisi alumninya di dunia kerja) atau lebih kepada prospek karir lulusannya. Hal ini akan sangat mempengaruhi daya tarik calon mahasiswa karena seakan-akan memberikan gambaran prospek karir mereka nantinya. Fenomena ini mengindikasikan bahwa visibilitas perguruan tinggi juga dapat meningkat karena adanya alumni-alumni yang menduduki posisi penting dalam sektor-sektor utama (yang menjadi sorotan publik) baik pemerintahan maupun perusahaan swasta. Selain itu, kualitas perguruan tinggi salah satunya dapat direpresentasikan oleh nilai hasil akreditasinya yang diakui secara nasional. Menurut saya nilai ini juga sangat mempengaruhi keputusan mahasiswa dalam memilih perguruan tinggi idamannya.

Dengan melihat fakta-fakta dan opini di sekitar, menurut saya kriteria perguruan tinggi idaman itu dapat dilihat melalui kualitasnya yang direpresentasikan melalui beberapa poin penting berikut:

  1. Peringkatnya pada cakupan nasional, regional, dan internasional.
    Hal ini terkait visibilitas perguruan tinggi yang dapat ditingkatkan melalui pencitraan perguruan tinggi melalui hasil riset (paper) yang dipublikasikan di jurnal internasional yang dirujuk hingga ratusan atau bahkan ribuan kali dan melalui konferesi, workshop, seminar, dan lain-lain yang berskala internasional sehingga hasilnya dapat dibukukan dan diindex dalam jurnal internasional kelas pertama (first tier).
  2. Visibilitasnya pada berbagai media informasi
    Hal ini terkait visibilitas perguruan tinggi yang dapat ditingkatkan melalui pencitraan website sehingga website dapat menjadi sumber informasi utama bagi akademisi dan pegawai pada perguruan tinggi tersebut dan juga calon mahasiswa dan peningkatan prestasi dalam ajang kompetisi antar perguruan tinggi baik yang berskala nasional maupun internasional sehingga otomatis akan meningkatkan visibilitas melalui berita yang diliput media massa baik nasional maupun internasional.
  3. Karir alumninya.
    Hal ini terkait visibilitas perguruan tinggi yang dapat diketahui dari posisi karir alumninya di dunia kerja baik melalui berita-berita ikatan alumninya (baik melalui media cetak maupun elektronik) maupun berita dari mulut ke mulut.
  4. Nilai akreditasi pada program studi yang dituju calon mahasiswa.
    Hal ini terkait visibilitas perguruan tinggi yang dapat ditingkatkan dengan mendapatkan nilai akreditasi terbaik melalui pemenuhan standar nasional akan mutu pendidikan per program studinya.

Dengan peningkatan visibilitas melalui empat poin tersebut, menurut saya bukan tidak mungkin jika nantinya akan banyak perguruan tinggi di Indonesia menjadi perguruan tinggi idaman bagi mahasiswa di seluruh nusantara dan tentunya akan banyak perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki peringkat yang lebih baik lagi dalam penilaian berskala internasional.

"Things which are perceived to be real will be real in their consequences." William I. Thomas

 

referensi: 
http://www.topuniversities.com/university-rankings/world-university-rankings/methodology/simple-overview
http://www.arwu.org/aboutARWU.jsp
http://www.4icu.org/menu/about.htm#ranking
http://www.timeshighereducation.co.uk/WorldUniversityRankings2009.html
http://www.webometrics.info/methodology.html
http://wiryanto.wordpress.com/2009/09/11/itb-ui-ugm-dan-ipb-melawan-pt-thailand-dan-malaysia/
http://www.timeshighereducation.co.uk/story.asp?storycode=408566

image:
http://www.timeshighereducation.co.uk/story.asp?storycode=408562