Wow…..Cool……….. :D
taken from:
http://28.media.tumblr.com/tumblr_ly3hijPNks1qiqf01o1_500.jpg
and this following pict. is Steve Job’s pupil, Mark Zuckerberg business card……hahaha……
taken from:
http://techcrunch.com/2012/05/06/think-you-deserve-to-be-called-a-ceo/
Monday, May 07, 2012 | Labels: miscellaneous | View Comments
Bombardier YouCity Contest
Bombardier YouCity is an online competition about the evolution of mobility in fast-growing urban areas. "With more than two thirds of the world’s population expected to live in cities by 2050, these commercial and cultural hubs urgently need to evolve in terms of improving the mobility of their populations and driving sustainable economic growth", says Martin Ertl, Chief Innovation Officer for Bombardier Transportation. "Our YouCity contest will provide innovators of the future a unique platform to demonstrate what smart urban mobility will look like on the horizon."
The online competition is open to students and professionals with a vision for the future of urban mobility from developed cities to emerging cities of the future.
Below you can find the timeline for the Bombardier YouCity Contest:
Timeline
01.03.2012: Registration to the competition is open
16.04.2012: Competition starts with Task 1
14.05.2012: Task 1 is closed. Launch of Task 2
10.06.2012: End of the online competition
July 2012: Jury meeting
01.08.2012: Announcement of winners on the website
17.09.2012: Bonus Task 3 held as an offline workshop: “YouCity Innovation Camp” starts in Berlin
20.09.2012: Final presentation and Award ceremony at InnoTrans 2012 in Berlin
for further information, just visit http://youcity.bombardier.com
kontes ini melibatkan tiga aspek untuk proposalnya yaitu engineering, business, and urban design,, pesertanya bisa individu atau kelompok, tapi karena diminta tiga aspek tersebut, kalo berkelompok otomatis bisa bagi-bagi tugas per aspek, kalo ada temen-temen yg tertarik ikutan dan ngerti soal aspek engineeringnya terutama, dan belum ada kelompok atau anggota lainnya untuk aspek business (ini feasibility analysis kynya) dan/atau urban design, pm me ya……![]()
Saturday, April 07, 2012 | Labels: event/contest | View Comments
How?
wahaha soal macam apa ini
yap beginilah ternyata kira2 jenis soal latihan untuk ikutan Facebook Hacker Cup yang diadakan facebook setiap tahun. sayangnya belum ada peserta dari Indonesia yang bisa masuk sampai babak final…
ada yg tertarik ngerjain soal ini? silakan…selamat mencoba…
Party Time
You're throwing a party for your friends, but since your friends may not all know each other, you're afraid a few of them may not enjoy your party. So to avoid this situation, you decide that you'll also invite some friends of your friends. But who should you invite to throw a great party?
Luckily, you are in possession of data about all the friendships of your friends and their friends. In graph theory terminology, you have a subset G of the social graph, whose vertices correspond to your friends and their friends (excluding yourself), and edges in this graph denote mutual friendships. Furthermore, you have managed to obtain exact estimates of how much food each person in G will consume during the party if he were to be invited.
You want to choose a set of guests from G. This set of guests should include all your friends, and the subgraph of G formed by the guests must be connected. You believe that this will ensure that all of your friends will enjoy your party since any two of them will have something to talk about...
In order to save money, you want to pick the set of guests so that the total amount of food needed is as small as possible. If there are several ways of doing this, you prefer one with the fewest number of guests.
The people/vertices in your subset G of the social graph are numbered from 0 to N - 1. Also, for convenience your friends are numbered from 0 to F - 1, where F is the number of your friends that you want to invite. You may also assume that G is connected. Note again that you are not yourself represented in G.
Input
The first line of the input consists of a single number T, the number of test cases. Each test case starts with a line containing three integers N, the number of nodes in G, F, the number of friends, and M, the number of edges in G. This is followed by M lines each containing two integers. The ith of these lines will contain two distinct integers u and v which indicates a mutual friendship between person u and person v. After this follows a single line containing N space-separated integers with the ith representing the amount of food consumed by person i.
Output
Output T lines, with the answer to each test case on a single line by itself. Each line should contain two numbers, the first being the minimum total quantity of food consumed at a party satisfying the given criteria and the second the minimum number of people you can have at such a party.
Constraints
T = 50
1 ≤ F ≤ 11
F ≤ N-1
2 ≤ N ≤ 250
N-1 ≤ M ≤ N * (N - 1) / 2
G is connected, and contains no self-loops or duplicate edges.
For each person, the amount of food consumed is an integer between 0 and 1000, both inclusive.
Saturday, April 07, 2012 | Labels: miscellaneous | View Comments
Al-Baqarah (246-248)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ
عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا ۖ قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا ۖ فَلَمَّا
{246} ۞ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ
سَعَةً مِّنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ
{247} ۞ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ
{248} ۞ الْمَلَائِكَةُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
246. Tidakkah kamu perhatikan para pemuka Bani Israil setelah musa wafat, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab, “Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?” Mereka menjawab, “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami?” [93] Tetapi ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.
[93] Mereka diusir dan anak-anak mereka ditawan.
247. Dan nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi) menjawab, “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.” Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.
248. Dan nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut[94] kepadamu, yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dibawa oleh malaikat, “Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah) bagimu, jika kamu orang beriman.
[94] Tabut ialah peti tempat menyimpan Taurat.
_______________________________________________________________________
translation from:
Syaamil Al-Quran
copypaste Al-Quran from:
# This copy of quran text is carefully produced, highly verified and continuously monitored by a group of specialists at Tanzil project.
# Tanzil Quran Text (Simple Enhanced, version 1.0.2)
# Copyright (C) 2008-2009 Tanzil.info
# License: Creative Commons BY-ND 3.0 Unported
Saturday, April 07, 2012 | Labels: Al-Quran | View Comments
Al-Baqarah (238-245)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
{238} ۞ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
{239} فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا ۖ فَإِذَا أَمِنتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ۞
وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِّأَزْوَاجِهِم مَّتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ ۚ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِي مَا
{فَعَلْنَ فِي أَنفُسِهِنَّ مِن مَّعْرُوفٍ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ۞ {240
{241} ۞ وَلِلْمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
{242} ۞ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو
{243} ۞ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
{244} ۞ وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
{245} ۞ مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
238. Peliharalah semua shalat dan shalat wusta. [91] Dan laksanakanlah (shalat) karena Allah dengan khusyuk.
[91] Shalat wusta menurut hadist yang shahih adalah shalat Asar.
239. Jika kamu takut (ada bahaya), shalatlah sambil berjalan kaki atau berkendaraan. Kemudian apabila telah aman, maka ingatlah Allah (shalatlah), sebagaimana Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang tidak kamu ketahui.
240. Dan orang-orang yang akan mati diantara kamu dan meninggalkan istri-istri, hendaklah membuat wasiat untuk istri-istrinya, (yaitu) nafkah sampai setahun tanpa mengeluarkannya (dari rumah). Tetapi jika mereka keluar (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (mengenai apa) yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri dalam hal-hal yang baik. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.
241. Dan bagi perempuan-perempuan yang diceraikan hendaklah diberi mut’ah menurut cara yang patut, sebagai suatu kewajiban bagi orang yang bertaqwa.
242. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya agar kamu mengerti.
243. Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati? Lalu Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kamu!” Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.
244. Dan berperanglah kamu di jalan Allah, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
245. Barang siapa meminjami[92] Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki), dan kepada-Nya lah kamu dikembailkan.
[92] Maksud meminjami Allah adalah menginfakkan hartanya di jalan Allah.
________________________________________________________________________
translation from:
Syaamil Al-Quran
copypaste Al-Quran from:
# This copy of quran text is carefully produced, highly verified and continuously monitored by a group of specialists at Tanzil project.
# Tanzil Quran Text (Simple Enhanced, version 1.0.2)
# Copyright (C) 2008-2009 Tanzil.info
# License: Creative Commons BY-ND 3.0 Unported
Saturday, April 07, 2012 | Labels: Al-Quran | View Comments
Interpretasi Menentukan Persepsi (?)
Seorang prajurit Sioux tua memiliki delapan kuda yang sangat bagus. Pada suatu malam, di tengah hembusan badai hebat, semua kudanya kabur. Para prajurit lain datang untuk menenangkannya. Mereka berkata, “Betapa sial dirimu. Kamu pasti sangat marah karena harus kehilangan kuda-kudamu.”
“Mengapa?” jawab si prajurit.
“Karena kamu telah kehilangan seluruh kekayaanmu. Sekarang, kamu tidak memiliki apa-apa lagi,” jawab mereka.
“Bagaimana kalian tahu?” tanyanya.
Keesokan harinya, delapan kuda yang hilang itu kembali dengan membawa dua belas ekor kuda jantan yang baru. Para prajurit datang lagi dan dengan gembira mengatakan bahwa sekarang si prajurit tua pasti sangat gembira.
“Mengapa?” sahut si prajurit tua.
“Karena sekarang kamu lebih kaya dibandingkan dengan sebelumnya,” jawab mereka.
“Bagaimana kalian tahu?” tanyanya lagi.
Keesokan harinya, putra si prajurit bangun lebih cepat untuk menunggangi kuda-kuda baru. Ia terlempar dan kedua kakinya patah. Para prajurit datang lagi dan bicara tentang betapa marah si prajurit itu pastinya karena kesialan yang ia alami, dan betapa mengerikan bagi si anak karena kakinya patah.
“Bagaimana kalian tahu?” ujar si prajurit lagi.
Dua minggu berlalu, dan ketua prajurit mengumumkan bahwa semua lelaki dan remaja pria yang bertubuh sehat harus bergabung dalam sebuah pasukan melawan suku tetangga. Suku Lakota menang, tetapi dengan kerugian besar karena banyak lelaki dan remaja pria tewas. Ketika prajurit yang tersisa kembali, mereka memberi tahu si prajurit tua bahwa anaknya sangat beruntung karena patah kaki. Jika tidak, ia mungkin telah terbunuh atau terluka dalam pertempuran sengit itu.
“Bagaimana kalian tahu?” jawab si prajurit tua. []
~
“Pengalaman dan peristiwa tidak ada yang buruk ataupun baik. Semuanya netral. Baik, buruk, benar, salah, sedih, marah, malas, jahat, baik, dan seterusnya adalah interpretasi yang dibuat manusia.”
-- dikutip dari buku Thinker Toys by Michael Michalko --
jadi inget Kung Fu Panda,
“There is just news”
“No good or bad”
”……That is bad news if you do not believe that the……”
(Master Oogway)
pada cerita tersebut prajurit2 tersebut sepertinya menyimpulkan/menginterpretasikan perasaan prajurit tua berdasarkan pengalaman mereka atau apa yang mereka lihat/yg mungkin mereka rasakan. padahal mungkin prajurit tua tersebut malah melihatnya dari sisi yg berbeda sehingga ia tidak tampak terkejut sama sekali. jadi berhati-hatilah kalau menjudge sesuatu…mari belajar melihat permasalahan dan memahami orang lain secara objektif…karena apa yang kita interpretasikan dapat menentukan keyakinan dan persepsi kita…dimana jika kita sudah meyakini sesuatu kita akan cenderung mengabaikan fakta/tidak peduli dengan hal lainnya, padahal interpretasi kita belum tentu benar, dan keyakinan yang salah itu bisa menimbulkan prasangka buruk yg bisa menimbulkan fitnah. *naooooon*
Pada suatu ketika, para astronom purba meyakini bahwa langit abadi dan terbuat dari eter. Teori ini membuat mereka tidak mungkin memandang meteor sebagai batu yang terbakar dari luar angkasa. Meskipun orang purba menyaksikan hujan meteor dan menemukan sebagiannya di tanah, mereka tidak dapat mengenalinya sebagai meteor dari luar angkasa. Mereka hanya mencari dan mengobservasi hal-hal yang memperkuat teori mereka mengenai langit. (Thinker Toys)
jadi…
#belajar mengumpulkan fakta yang benar dan komprehensif sehingga kita bisa menginterpretasikan masalah dengan benar.
#belajar bertoleransi…
#belajar melihat bagaimana duri bisa memiliki mawar…walaupun lebih sering kita mendengar mawar memiliki duri (?)
kembali ke cerita prajurit, ini mungkin ada hubungannya juga dengan apa yang baik menurut kita belum tentu baik untuk kita, dan apa yang buruk menurut kita boleh jadi itu baik untuk kita.
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216)
yeah just try to choose the right path and think differently to solve the problem. belajar bersyukur dan berpikir positif karena pengetahuan dan kemampuan kita terbatas. and have patience and faith.
“you just need to believe…” (Master Oogway)
edited on April 7th 2012
Friday, March 30, 2012 | Labels: miscellaneous | View Comments
Layanan Data untuk Semua: Kualitas Meningkat, Harga Bersahabat
Tema Pilihan: Industri telekomunikasi seluler di Indonesia pada saat ini dan bisnis model yang tepat
Harga ponsel dan tarif SMS/telepon/data dari berbagai operator yang kini semakin relatif terjangkau oleh berbagai kalangan masyarakat telah membawa perubahan yang cukup signifikan dalam pola konsumsi masyarakat dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa tahun yang lalu, sebelum ponsel pintar (smartphone) banyak digunakan, sebelum WiFi dengan mudah dapat diakses di mall -mall, sebelum jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Foursquare, Koprol, dan lainnya banyak dikenal, sebelum ponsel dengan layar sentuh muncul di pasaran, tidak banyak orang yang terlihat menggunakan ponsel GSM untuk berkomunikasi melalui telepon atau SMS di tempat-tempat umum. Saya masih bisa menemukan wartel di pinggiran jalan atau di dekat pusat kegiatan publik, baik di dekat sekolah, kantor, pasar, terminal, dsb. Begitu juga telepon umum koin dan telepon umum kartu. Pada waktu itu telepon rumah/kabel adalah alat telekomunikasi utama yang digunakan sebagian besar masyarakat. Bahkan beberapa wilayah dekat tempat tinggal saya belum terjangkau oleh jaringan telepon dari Telkom. Terlepas dari banyaknya jumlah pengguna ponsel dan telepon kabel, dahulu teknologi telepon dan SMS sudah tergolong canggih dan tarifnya pun relatif mahal jika dibandingkan dengan tarif saat ini. Tarif SMS sesama operator adalah sekitar Rp350,- ke sesama operator dan Rp500,- ke lain operator untuk per 160 karakter. Sementara tarif telepon lokal adalah sekitar Rp300/menit. Bandingkan dengan setahun belakangan ini dimana banyak promo dari hampir semua operator yang menawarkan ratusan SMS gratis per hari dan puluhan menit menelepon gratis baik ke sesama operator maupun lain operator.
Walaupun akhirnya sejak Desember 2008 promo tarif nol dan bonus SMS gratis antar operator tersebut resmi dilarang oleh pemerintah, tarif saat ini tetap relatif jauh lebih murah dibandingkan sebelum tahun 2000-an. Kebijakan pemerintah sebelumnya dengan memberlakukan skema SKA (Sender Keep All)—tarif SMS yang dikenakan pada konsumen menjadi keuntungan operator pengirim—dinilai tidak adil karena dapat digunakan untuk kepentingan tertentu dimana penyelenggara pengirim SMS dapat mendistorsi pasar dan mengganggu keseimbangan industri. Di sisi lain, kebijakan tersebut juga mendatangkan keluhan dari operator penerima karena lonjakan traffic SMS yang cukup besar sehingga membebani server dan mengurangi kualitas layanan, dan juga menyebabkan maraknya SMS spam dan SMS Broadcast (penyebaran SMS ke banyak pengguna ponsel) misalnya seperti pada kasus “mama minta pulsa”. Teknologi ponsel berkembang semakin pesat dan jumlah penggunanya pun terus bertambah, bahkan meningkat dua kali lipat sejak munculnya ponsel dengan teknologi CDMA. Fakta yang cukup mengejutkan yaitu peningkatan jumlah pengguna ponsel ternyata berbanding terbalik dengan pengguna telepon kabel. Berdasarkan hasil survei dari Nielsen Company Indonesia, jumlah pengguna telepon kabel turun hingga lebih dari 50% sejak tahun 2005 (link). Masyarakat Indonesia yang menggunakan ponsel saat ini berjumlah sekitar 129 juta orang atau 54% dari jumlah penduduk. Angka tersebut masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan Singapura (91%), Malaysia (76%), Thailand (72%), dan Filipina (57%).
sumber: link
Siklus hidup ponsel pun kini semakin cepat, hampir setiap tahun muncul ponsel high-end terbaru dari setiap merk ponsel. Harga ponsel low-end pun turun secara berangsur sehingga penetrasi penggunaan ponsel semakin meluas ke seluruh lapisan masyarakat. Jumlah operator penyedia layanan pulsa juga bertambah diiringi dengan persaingan promo tarif yang sangat ketat sehingga tarif sms dan telepon dapat terjangkau oleh seluruh kalangan masyarakat baik di perkotaan maupun perdesaan. Sekarang saya sudah sangat jarang menemukan wartel atau pun telepon umum koin, bahkan hampir tidak ada. Selain itu, beberapa tempat yang sebelumnya adalah wartel sekarang sudah berubah menjadi warnet. Hal ini menunjukkan terjadinya perubahan yang signifikan pada pola konsumsi masyarakat dalam berkomunikasi yang sudah bergeser dari teks SMS dan telepon ke arah layanan data. Bahkan sebagian besar masyarakat kini menggunakan ponsel yang sudah dilengkapi dengan browser dan dengan tarif akses layanan data/internet yang semakin terjangkau, kunjungan ke warnet juga menurun 20% dalam dua tahun terakhir, dari 89% menjadi 60%, akses internet dari ponsel meningkat dari 22% menjadi 58%, dan akses internet dari rumah meningkat dari 16% menjadi 32% (link).
sumber: link
Nielsen memprediksi pada pertengahan 2012 pengguna smartphone di Indonesia akan melonjak 29% dibandingkan pertengahan 2011 (link). Penjualan tablet PC pun terus meningkat, bersaing ketat dengan penjualan netbook (link). Selain itu, Indonesia tergolong unik karena mayoritas pengguna internet di sini yaitu 61,88% pengguna mengakses melalui ponsel, sementara di negara-negara di Asia Tenggara lainnya pengguna internet lebih banyak mengakses dari perangkat lain selain ponsel (link). Menurut saya hal ini sebenarnya dapat berdampak positif terhadap produktifitas masyarakat terkait kemudahan dan efisiensi biaya dalam mengakses internet sebagai sumber informasi dan sarana telekomunikasi, yang pada akhirnya dapat turut meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan kondisi perekonomian wilayah. Seperti halnya tarif SMS dan telepon, dengan semakin banyaknya pengguna, tarif layanan data berpotensi semakin relatif terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Namun, apakah pertumbuhan pengguna layanan data akan terus meningkat sebanding dengan peningkatan jumlah pengguna smartphone? Apakah masyarakat rela mengeluarkan uang lebih banyak untuk menikmati layanan data tersebut? Bagaimana konsekuensinya terhadap penyesuaian tarif layanan data?
Kesediaan Membayar (Willingness to Pay) dan Kemampuan Membayar (Ability to Pay) Masyarakat
Penentuan harga yang terjangkau dimana masyarakat bersedia membayar merupakan tipping point suatu layanan telekomunikasi diterima oleh masyarakat luas (link). Berdasarkan hasil survei LPPMI terhadap seratus pengguna layanan telekomunikasi, 75% responden menganggap tarif layanan data saat ini masih mahal. Hal ini dapat berarti akses internet masih sulit terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Sebanyak 81,25% responden menghendaki tarif akses data diturunkan dengan batas tarif maksimal Rp50.000/bulan. Sekitar 88% responden lebih suka berlangganan layanan data dengan pola tanpa batas (unlimited) dengan pengeluaran rata-rata untuk layanan data adalah Rp50.000-Rp100.000. Beberapa responden ada juga yang pengeluarannya di atas Rp100.000 tetapi tidak ada yang lebih dari Rp500.000. Untuk kualitas jaringan internet, 43,7% responden menyatakan sudah baik. Jika melihat pada tarif operator saat ini dengan kesediaan membayar sebesar Rp50.000-Rp100.000 layanan data yang ditawarkan menurut saya cukup memuaskan untuk akses internet melalui ponsel. Tetapi kurang memuaskan untuk akses internet melalui PC atau laptop. Rata-rata kuota yang ditawarkan pada kisaran tarif tersebut hanya 1-2 GB dengan masa aktif satu bulan. Sementara untuk paket layanan data smartphone dengan jumlah tersebut kita sudah bisa mendapatkan paket unlimited. Tetapi mungkin dengan budget Rp100.000 misalnya, bagi sebagian orang tidak mungkin untuk mengalokasikan budget tersebut untuk layanan data pada ponsel seluruhnya karena kebutuhan yang berbeda-beda dimana terdapat kendala jika menggunakan ponsel untuk akses internet seperti transfer data dalam jumlah besar, perangkat lunak yang tidak mendukung, atau karena preferensi tertentu lainnya, sehingga harus memilih salah satunya. Jika diasumsikan pemakaian rata-rata per orang adalah 5GB/bulan, maka masyarakat bersedia membayar Rp10.000/GB. Biaya tersebut hanya untuk pengeluaran akses internet melalui PC dan belum termasuk pengeluaran untuk layanan data smartphone. Sementara tarif yang tersedia saat ini berkisar antara Rp25.000/GB hingga Rp66666,67/GB. Dengan kondisi seperti ini akses internet akan sulit untuk merambah masyarakat yang lebih luas karena daya beli masyarakat masih di bawah tarif yang berlaku saat ini.
Perkembangan Layanan Data di Masa yang Akan Datang
Meskipun tarif layanan data dinilai masyarakat masih tergolong mahal, pertumbuhan jumlah pelanggan layanan data ternyata sangat signifikan hingga mencapai 60% dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Hal ini memang ironis dan menimbulkan pertanyaan apakah dengan terus bertambahnya jumlah pelanggan dan ketatnya persaingan antar operator akan berpengaruh positif terhadap penurunan tarif layanan data atau justru akan menaikkan harga layanan data, karena dengan tingkat pertumbuhan seperti itu operator harus membangun dan memperluas jaringan infrastruktur. Jumlah penggunaan SMS dan suara yang menurun drastis membuat operator mulai berfokus pada infrastruktur layanan data yang berkualitas dan Value Added Service (VAS). Tetapi, berdasarkan prediksi Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI), layanan data dan VAS operator secara umum akan tumbuh 35% hingga 2014. Layanan data dan VAS di Indonesia juga akan meningkat setiap tahunnya dibanding layanan SMS. Dengan demikian, kontribusi pendapatan dari VAS lainnya (selain SMS) berpotensi meningkat melampaui SMS. Persaingan tarif layanan data sepertinya akan tetap sengit dan hal ini meningkatkan probabilitas semakin terjangkaunya tarif layanan data, bahkan mungkin kita akan lebih mudah menemukan WiFi gratis di mana-mana. Menurut D. Mahapatra, Vice President Managed Services Comviva VAS juga memainkan peranan kritis untuk memastikan adanya perbedaan merek bagi operator bukan hanya di Indonesia, tetapi juga operator-operator di berbagai negara (link). Hal ini terkait dengan strategi operator dalam menyediakan platform yang tepat, misalnya solusi pada para pelaku bisnis pada bisnis broadcasting, finance, UKM dan industri yang lainnya; menyediakan layanan konten tambahan seperti ringtone, screensaver, logo, wallpaper dan CRBT (Caller Ring Back Tones) seperti nada sambung pribadi, i-ring dll; bekerja sama dengan penyedia layanan konten, permainan, kuis, dan lain sebagainya. Selain itu, mungkin juga berupa layanan siaran televisi (TV) berbasis internet protokol (IPTV) yang diprediksi akan semakin marak dimana dengan layanan ini konsumen bisa menikmati konten di TV, ponsel, PC atau tablet hanya dengan satu kali berlangganan (link).
VAS untuk Kesejahteraan Masyarakat
Saya masih ingat pada Oktober 2011 yang lalu di situs jejaring sosial ada beberapa teman yang mengumumkan cara berhenti berlangganan dari konten premium yang kabarnya sangat meresahkan masyarakat karena dianggap telah mencuri pulsa pengguna. Pada waktu itu pemerintah mengeluarkan surat edaran yang isinya diantaranya melarang penawaran konten melalui SMS broadcast/pop screen/voice broadcast dan meminta operator mengembalikan pulsa pengguna yang pernah dirugikan akibat layanan Jasa Pesan Premium. Pemerintah juga sudah memasukkan 60 perusahaan penyedia konten ke dalam daftar hitam (blacklist). Kasus ini nampaknya memang sudah sangat meresahkan masyarakat. BRTI dan regulator menyatakan telah menerima 7000 pengaduan via nomor 159 dan lebih dari 90% sudah ditangani bersama operator (link). Menanggapi hal ini, dalam rapat antara operator dan regulator (Kominfo dan BRTI) pada 5 Oktober 2011, operator menjelaskan bahwa tidak ada maksud dari operator untuk memfasilitasi penyedia konten yang meresahkan masyarakat karena hal tersebut bisa menyangkut pidana (link). Pada pertemuan tersebut pemerintah juga menghimbau agar operator membuat posko pengaduan secara fisik atau hot line dan membuat iklan layanan secara masif terkait reg-unreg, pengaduan, dan informasi terkait lainnya sehingga pengguna memahami dengan jelas saat akan menggunakan layanan. Operator juga berhak membatalkan perjanjian kerjasama dengan penyedia layanan terkait secara sepihak dan juga memberikan syarat terkait sanksi pidana agar kejadian penggerusan pulsa yang merugikan masyarakat tidak terulang lagi. Tidak hanya itu, pemerintah dan BRTI juga menyatakan akan memberikan sanksi tegas kepada operator yang melanggar peraturan.
sumber: link
Dari kasus ini, kita dapat melihat masih adanya oknum-oknum tertentu yang berbisnis secara tidak sehat yang memanfaatkan keteledoran pengguna dalam hal berlangganan layanan SMS premium. Operator juga dirugikan karena hal tersebut sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap VAS yang ditawarkan operator telekomunikasi. Masyarakat akan menjadi trauma menggunakan layanan konten premium karena selain menguras pulsa yang berlebihan, banyak yang tidak sadar telah berlangganan layanan tersebut. Pemerintah mungkin terlalu lambat atau kurang tegas dalam mengantisipasi hal ini dimana peraturan terkait layanan SMS premium secara jelas seharusnya sudah ada sebelum layanan tersebut marak. Akibat terlambatnya peraturan tersebut operator dan masyarakat pengguna banyak yang menjadi korban. Moratorium layanan SMS premium mengakibatkan operator melakukan reset ulang layanan-layanan tersebut sehingga data semua pelanggan layanan VAS hilang dan bisnis VAS harus kembali dimulai dari awal. Untuk membangun kembali kepercayaan pelanggan memang tidak mudah, tetapi bukan berarti permintaan akan VAS tidak ada. VAS bukan hanya salah satu strategi operator dalam meningkatkan nilai ARPU, tetapi masyarakat juga sebenarnya membutuhkan VAS mengingat saat ini ponsel bukan hanya sekedar alat telekomunikasi, tetapi juga untuk hiburan, transaksi perbankan, alat pembayaran, dsb. Dalam hal SMS premium menurut saya operator harus lebih jelas lagi dalam beriklan sehingga mudah dimengerti dan tidak mengandung unsur “jebakan”. Selain itu, operator juga perlu mengkaji perjanjian kerjasama dengan penyedia layanan konten secara detail, apakah layanannya akan menimbulkan kerugian bagi masyarakat atau tidak karena kerugian bagi masyarakat juga akan menjadi kerugian bagi operator dimana hal tersebut dapat berdampak terhadap perubahan kebijakan pemerintah, tingkat kepercayaan konsumen, loyalitas pelanggan, dan permintaan VAS. Bagaimanapun juga kejadian ini tetap dapat membawa pengaruh positif untuk menuju sistem yang lebih transparan dan mampu memberi manfaat untuk semua pihak, baik penyedia konten, operator, dan masyarakat.
sumber: link
Di sisi lain, situasi seperti ini sebenarnya dapat menjadi peluang bagi operator dan industri startup yang bergerak dalam bidang layanan konten dalam menyediakan alternatif VAS, baik untuk kategori mobile commerce (mobile banking, mobile remittance, mobile payment & shopping), hiburan, aplikasi, layanan komunitas, toko aplikasi, iklan, dan lainnya dimana untuk setiap kategori tersebut terdapat alternatif berbagai model bisnis. Dalam kategori mobile payment misalnya operator dapat bekerja sama dengan banyak toko offline maupun online untuk menyediakan fasilitas pembayaran yang praktis semudah mengecek sisa pulsa. Mungkin operator juga bisa menyediakan vending machine yang proses pembayarannya dapat dillakukan melalui ponsel. Selain itu operator juga dapat bekerja sama dengan penyelenggara konser atau event tertentu atau agen perjalanan atau perusahaan transportasi lainnya untuk menyediakan fasilitas pembayaran tiket melalui ponsel dengan sistem SMS billing atau dengan SMS premium atau dengan IVR billing atau dengan layanan USSD. Pertumbuhan jumlah pengguna game online di Indonesia yang sangat signifikan juga membuka peluang bagi operator untuk bekerja sama dengan industri game online dalam menyediakan fasilitas pembayaran untuk transaksi kecil (micropayment).
Hiburan lainnya yang banyak diminati masyarakat adalah layanan RBT, namun layanan ini terkena dampak serius dari larangan SMS premium sejak Oktober lalu. Pelanggan RBT menurun dari 25 juta pelanggan menjadi tiga juta pelanggan. Akan tetapi kita tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa masyarakat sudah tidak mau menggunakan RBT. Kekhawatiran akan kasus “pencurian pulsa” membuat masyarakat lebih berhati-hati lagi dalam berlangganan. Untuk layanan ini mungkin operator dapat menawarkan layanan ini dengan konsep yang berbeda misalnya dengan memotong pulsa untuk biaya berlangganan pada akhir periode (setelah pelanggan menggunakan RBT) atau dengan memberikan bonus RBT untuk periode yang relatif lama. Kepercayaan masyarakat akan layanan yang jujur sangat terkait dengan transparansi operator dalam menyampaikan informasi. Mungkin akan lebih meyakinkan jika kita dapat melihat track record atau jejak pulsa yang masuk dan keluar seperti halnya melihat isi buku tabungan dari bank. Hal ini juga akan memudahkan masyarakat yang merasa pulsanya “dicuri” untuk menelusuri kemana saja pulsanya mengalir. Apalagi jika pembayaran melalui ponsel sudah dapat dilakukan di banyak tempat. Data transaksi yang transparan akan menjadi sangat penting bagi pengguna. Sistem ini mungkin dapat dibuat berbasiskan web dimana masyarakat yang ingin mendapat layanan ini harus mendaftar di situs tersebut. Tetapi dari semua alternatif tersebut, hal yang terpenting bagi masyarakat adalah ketentuan berlangganan yang jelas serta penyampaian iklan yang jujur dan edukatif.
Layanan aplikasi khusus untuk pembayaran atau belanja online untuk smartphone juga akan sangat menarik karena dibandingkan sistem SMS atau USSD, tampilan aplikasi atau desain pengalaman pengguna (User Experience Design) dapat lebih menarik minat pengguna. Bahkan ada yang mengatakan “people do not buy products because of the features but because of the experience delivered “ (orang tidak membeli produk karena fiturnya, tetapi karena pengalaman yang didapatkannya). Operator dapat juga menawarkan kumpulan aplikasi dalam satu toko aplikasi, misalnya aplikasi tentang resep-resep masakan yang diperbaharui setiap minggu, tips-tips kesehatan, tips-tips olahraga, trend fashion, info lowongan kerja, info beasiswa, dll. Pemerintah juga dapat bekerjasama dengan operator dalam menyediakan layanan informasi pemerintahan yang dibuat dalam bentuk aplikasi. Tidak hanya itu, aplikasi tersebut juga dapat menjadi wadah interaksi antara masyarakat dan pemerintah. Bahkan jika memungkinkan, akan lebih berguna bagi warga masyarakat apabila setiap kota/kabupaten mempunyai aplikasi mobile masing-masing karena informasi yang tersedia akan lebih spesifik mengenai hal-hal yang ada/terjadi di kota/kabupaten tersebut, misalnya informasi tentang perizinan, acara, isu ruang publik, peta lokasi yang sudah dilengkapi dengan informasi fasilitas sosial dan umum, lowongan pekerjaan, isu lingkungan, direktori informasi kontak penduduk, pembelian tiket event/sarana transportasi, pembayaran administrasi surat-surat izin, dan lain sebagainya khusus untuk kota tersebut. Tetapi poin penting dari konsep ini bukan hanya menduplikasi tampilan desktop website ke dalam bentuk mobile website, melainkan fungsinya yang diharapkan dapat digunakan secara efektif dan efisien.
sumber: link
Jika dilihat berdasarkan karakteristik demografi, sosial, dan ekonomi, terdapat perbedaan tingkat penggunaan layanan data antara masyarakat di wilayah perkotaan dan perdesaan. Apalagi sebagian besar wilayah perdesaan di Indonesia belum terlayani oleh jaringan infrastruktur telekomunikasi yang memadai. Dari 72.000 desa di Indonesia hanya 43.000 desa yang sudah memiliki fasilitas telekomunikasi (link). Perkembangan pemanfaatan layanan data yang lebih lambat dibandingkan dengan wilayah perkotaan menyebabkan layanan SMS dan suara masih menjadi andalan masyarakat. Meskipun demikian, layanan tersebut turut berkontribusi besar terhadap peningkatan perekonomian masyarakat, misalnya para petani, nelayan, dan pedagang di Banda Neira, Maluku, dan di Manggarai Timur, NTT, yang mengatakan bahwa mereka merasa terbantu karena bisa mengetahui situasi harga pasar sehingga mereka bisa menentukan harga jual yang tepat untuk hasil produksinya. Sebelum tersedia fasilitas telekomunikasi, informasi tersebut sulit diperoleh sehingga banyak masyarakat yang tertipu (link). Dengan fakta seperti ini, layanan nilai tambah berupa layanan informasi harga produk hasil pertanian, perikanan, dan kebutuhan pokok, disamping layanan hiburan dan mobile payment, mungkin akan sangat membantu masyarakat untuk meningkatkan produktivitas usahanya.
Di beberapa negara, termasuk Indonesia perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sejalan dengan pertumbuhan ekonomi wilayah. Secara tidak langsung teknologi informasi dan telekomunikasi telah berkontribusi meningkatkan PDB. Namun sebagian besar investor masih kurang tertarik untuk berinvestasi karena besarnya nilai investasi yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur jaringan telekomunikasi dan lamanya periode pengembalian modal. Padahal dilihat dari jumlah penduduk, wilayah perdesaan memiliki potensi pasar yang cukup besar dimana 50% penduduk Indonesia adalah penduduk perdesaan (PBB, 2007). Akan tetapi, kabar baiknya adalah mulai tahun 2009 salah satu operator terbesar di Indonesia, PT XL Axiata berkomitmen untuk turut memeratakan akses pendidikan melalui pemanfaatan teknologi komunikasi dan internet ke sekolah-sekolah di daerah terpencil, yang akan membuka kesenjangan informasi antara anak perkotaan dengan perdesaan (link). Hal ini berarti membuka peluang tumbuhnya jumlah pengguna ponsel dan akses masyarakat ke internet sehingga membantu meningkatkan produktifitas masyarakat (ekspansi bisnis, mengurangi pengangguran, mengurangi biaya operasional dan biaya untuk memulai bisnis baru, memungkinkan penggunaan layanan mobile banking, dan mengurangi ongkos transaksi) serta pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Peran Pemerintah dalam Penetapan Tarif Layanan Telekomunikasi
Peran pemerintah dalam penetapan regulasi terkait skema tarif akan berpengaruh terhadap tingkat aksesibilitas masyarakat terhadap layanan data yang disediakan operator. Hal ini juga terkait dengan persaingan tarif layanan data antar operator yang semakin ketat seiring dengan semakin bertambahnya jumlah pengguna. Layanan data mungkin akan menjadi kebutuhan dasar seluruh masyarakat dalam beberapa tahun mendatang. Jangan sampai keterlambatan pemerintah dalam menentukan kebijakan yang tepat menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan operator seperti pada perubahan regulasi tarif SMS yang awalnya berdasarkan biaya (cost-based) kemudian diubah menjadi SKA dan diubah lagi menjadi cost-based (link). Di sisi lain, dukungan infrastruktur pita lebar di sekitar 29.000 wilayah perdesaan juga membutuhkan investasi yang sangat besar. Namun bagaimanapun juga pemerintah harus tetap konsisten mengimplementasikan kebijakan yang sudah dibuat yaitu dalam hal meyelenggarakan telekomunikasi untuk akses broadband menggunakan spektrum frekuensi Broadband Wireless Access (BWA) dan seleksi penyelenggaraannya pada pita 2.3 GHz dan 3.3 GHz untuk:
- Menambah alternatif dalam upaya mengejar ketertinggalan teledensitas ICT dan penyebaran layanan secara merata ke seluruh wilayah Indonesia dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama
- Mendorong ketersediaan tarif akses internet yang terjangkau (murah) di Indonesia
- Membuka peluang bangkitnya industri manufaktur, aplikasi dan konten dalam negeri
- Mendorong optimalisasi dan efisiensi penggunaan spektrum frekuensi radio
karena berdasarkan data Badan Komunikasi PBB (ITU) Indonesia tidak termasuk ke dalam negara yang menyediakan tarif akses internet yang murah (link). Pemerintah harus mempertimbangkan kemampuan membayar masyarakat terutama masyarakat perdesaan yang pendapatannya berkisar antara Rp400.000 hingga Rp1.200.000 dan rata-rata menyisihkan budget untuk komunikasi sebesar 5%, yang berarti sekitar Rp20.000 hingga Rp60.000 per bulan (link). Dari rumusan kebijakan di atas, pemerintah seharusnya dapat lebih konsisten dengan menetapkan tarif dan jangka waktu yang jelas dalam menyebarkan layanan yang merata ke seluruh wilayah Indonesia. Mungkin Indonesia sempat mengalami masa dimana backbone international merupakan kendala (kapasitas terbatas & harga sangat mahal), namun sekarang ini dengan hadirnya beberapa alternatif kabel laut dari beberapa penyelenggara baru dan begitu banyaknya satelit asing, kompetisi menjadi sangat ketat sehingga umumnya tarif backbone internasional semakin turun menuju ke tingkat harga yang rasional (link). Hal ini tentunya sangat mendukung tercapainya tujuan pemerintah dalam mendorong ketersediaan tarif akses internet yang terjangkau (murah) di Indonesia.
Kesimpulan
Pemerintah dan operator harus bersinergi dalam menyediakan layanan data yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, terutama dalam hal penetapan skema tarif yang sesuai. Pemerintah juga harus transparan dalam menyampaikan informasi tarif kepada masyarakat untuk menciptakan iklim persaingan tarif yang sehat dan mendorong pada tarif layanan data yang kompetitif. Sementara operator harus transparan dalam menyampaikan iklan layanan untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat akan layanan nilai tambah (VAS). Sebenarnya VAS tidak hanya berpotensi membuka peluang tumbuhnya bisnis baru bagi industri-industri startup penyedia konten dan operator, tetapi juga berpotensi menyejahterakan masyarakat jika diimplementasikan dengan strategi yang tepat (sesuai kebutuhan masyarakat, harga yang terjangkau, dan tidak “menjebak”). Selain itu, VAS juga seharusnya tidak hanya memberikan nilai tambah dalam hal kemudahan untuk mengakses informasi dan bertransaksi, tetapi juga nilai tambah kualitas yang sesuai dengan nilai uang yang harus dikeluarkan. Ekspansi jaringan infrastruktur layanan pita lebar ke pelosok-pelosok didukung dengan layanan VAS yang tepat guna dapat membawa perubahan besar dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat dan menjadi nilai tambah bagi operator dalam persaingan bisnis yang semakin ketat. Hal ini dapat menjadi strategi CSR yang efektif dan efisien bagi operator penyelenggara. Di sisi lain, perkembangan pemanfaatan layanan data yang semakin pesat tidak hanya membawa dampak positif, tetapi juga memungkinkan penyalahgunaan fasilitas/layanan oleh pihak-pihak tertentu. Pemerintah harus mengantisipasi hal ini dengan merumuskan kebijakan yang tepat dalam berbagai aspek terkait, baik kebijakan untuk aspek pentarifan maupun kebijakan sistem manajemen infrastruktur, sehingga dapat memberikan manfaat optimal bagi semua pihak (masyarakat, operator, dan penyedia konten).
Saturday, December 31, 2011 | Labels: XL Award 2011 | View Comments
The Milestones Towards Entrepreneurship Culture Changes
The number of young entrepreneur in Indonesia is still not significant enough if we compare it with the one in Silicon Valley or even Singapore. This country with nearly 250 million people—has just 400,000 entrepreneurs who build scalable, innovative companies. That’s less than 1% of the population. Compare that to 13% for the United States and 7% for nearby Singapore (TechCrunch, June 6th 2010). I think it is understandable since Indonesia is still growing up. It would take times to increase the number which involve culture change and mindset shift. There is saying that most of Indonesian people see that it is more prestigious to work in high profile companies or become government civil servant than become an entrepreneur.
It sounds so complicated to change all Indonesian people mindset indeed, yet it is the most critical thing as Mr. Ciputra said, “better mindset will create better values, better values create better culture and better culture will at last create a better civilization.” Absolutely there will be several milestones to be accomplished to increase the number of entrepreneur in Indonesia that could leverage our economic condition and create great multiplier impact.
However, now Indonesia has really favorable climate for entrepreneurship. In July 2011 there was one big event which might be the first critical milestone to catalyze Indonesia entrepreneurship movement. The Ministry of Trade of Republic Indonesia and government of United States held ASEAN Regional Entrepreneur Summit (RES) as part of Global Entrepreneurship Program (GEP)—a core program at the US State Department guided by Secretary of State Hillary Rodham Clinton, to promote entrepreneurship as a key pillar of economic development among developing countries.
Ms. Hillary Clinton said that this event aim not only to gather the entrepreneurs but also to tackle the obstacles that entrepreneurs face such as cumbersome government regulations, corrupt officials who demand a bribe before issuing a business permit, and cultural norms that might prevent her from handling money or owning land. This event became an important moment for entrepreneur to show off their creativity to many venture capitalists and angel investors.
The surprising fact is Indonesia is chosen as the best place for entrepreneurs to start a business followed by USA, Canada, India, and Australia, according to BBC survey that involved 24,000 people across 24 countries. The respondents were asked whether innovation was highly valued in their country; whether it was hard for people like them to start a business; whether people who do were highly valued; and whether people with good ideas could usually put them into practice (Bbc.co.uk, May 25th 2011). Moreover, Eric Schmidt, Executive Chairman of Google, and many economists are predicting that Indonesia can be the next Brazil (the world’s eighth-largest economy).
Because of this fact, many investors are keeping a close watch on this country and the U.S. will actively work to foster angel investor groups and connect them with startups and entrepreneurs. Probably, that’s also the cause why business incubators are now flourishing in Jakarta. Those are established to help founders build great companies by facilitating the selected founders with great mentors and investor networks. Several of them are Founder Institute, Project Eden, East Ventures, Batavia Incubator, Merah Putih Inc. etc. They truly provide great opportunity for Indonesian Startup, raise the awareness of how important entrepreneurship and innovation are for Indonesia’s future, and together create great ecosystems for emerging entrepreneur.
The second milestone is our country current plan which is arranging master plan for a national entrepreneurial education curriculum. This program aims to reduce poverty and unemployment by promoting a new culture of individual entrepreneurship. Initiated by Mr.Ciputra and Mr.Jacob Oetama, who have written a paper about policy brief on the importance of entrepreneurial education for Indonesia's economic development and government's role in promoting a culture of entrepreneurship, and submitted it to President Yudhoyono, this campaign was approved and they have been approached by national and international organizations on entrepreneurship to disseminate entrepreneurial education to wider audiences in Indonesia (An Excerpt from Kauffman Thoughtbook 2011).
Though there are so many advantages we got from the government, investors, and former entrepreneurs, Indonesia is facing great challenge to harness those opportunities. As the obstacles such as infrastructure, investment accessibility, complex regulation, and unfriendly bureaucracy, are still in progress to be resolved, we should be able to produce great works and achieve our goal soon in order not to make those who helped us got disappointed and those investments wasted. Indonesia still has to strive to produce great works and keep finding great ideas and turn them into reality. It was really surprising and exhilarating to just find out about some Indonesian entrepreneurs on Techcrunch.com, Businessweek.com, BBC, Penn Olson, etc. I think all of them could give inspiration and much spirit to many Indonesian people to create the better product and new companies.
Indonesia has started to build what they called pay-it-forward culture (Venture Beat, September 15th 2011) which is believed as the key success of entrepreneurship in Silicon Valley. It might be the most important thing to achieve the other milestones as well. So, we should start to build support networks in area of our interest where we could learn and contribute to help others. In the other side, experienced executives “pay-back” the help they got by mentoring others, and this pay-it-forward culture could make the ecosystem smarter.
However, we still have a long way to go, as Kaiser Kuo said, “A Silicon Valley requires many things. It’s not just great schools and research institutes, not just sources of capital, but also things like law firms and accounting firms. There’s also an important cultural component to it, of course: when so many of your peers–your schoolmates, people in your age cohort or what not–have gone out and founded successful companies, or at least had a hell of a ride trying, it’s just more likely that you’ll feel better about taking on that kind of risk.”
Thursday, December 22, 2011 | Labels: entrepreneurship | View Comments
ICT Enablement for Greener Asia
Apa sih yang terbayang oleh teman2 saat membaca judul postingan ini? teknologi informasi dan komunikasi yang ramah lingkungan kah atau bagaimana mewujudkan lingkungan yang lebih hijau melalui ICT? tapi apapun itu pasti kebayang kan kalau judul itu ada hubungannya dengan ICT dan lingkungan?hehe…
Tanggal 1 November yang lalu saya ikut menghadiri conference ICT for Green Asia di Jakarta. Acara ini diadakan untuk memberikan pandangan2 dari para pimpinan perusahaan2 yang memimpin industri pertelekomunikasian dunia dan para ahli kebijakan mengenai strategi bisnis berbasis lingkungan dengan memfasilitasi pembangunan hijau dan berkelanjutan di wilayah Asia Tenggara. Acara ini diselenggarakan oleh Indonesia's Green Connectivity Provider, Bakrie Telecom, dengan dukungan dari the Global e-Sustainability Initiative (GeSI) and the Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD).
- providing rebate to subscribers who turn in old phones for recycling
- integrates an unplug notification into esia handsets
- free cooling of cellular base stations
- collected 1500 handsets to be recycled in Jakarta Festival event
Industri ICT menurut Pak Anindya walaupun tidak terlalu berdampak signifikan terhadap lingkungan (setidaknya hingga saat ini) tetapi dapat berkontribusi besar terhadap sektor lain dalam mengurangi efek rumah kaca, “Our role must be more than just relaying and distributing news and examples about companies like GE and Wall Mart for their admirable vision and commitment to environmental preservation. We can not just give examples. We need to be those examples”.
Pada acara ini juga diadakan penyerahan tanaman oleh perwakilan beberapa anak kecil kepada para pembicara sebagai simbol penyerahan lingkungan (masa depan bumi kita) yang saat ini kita pinjam dari mereka. Seperti yang juga dibahas oleh Pak Anindya bahwa “We don’t inherit the earth from our ancestors, We borrow it from our children. (Wah pot tanamannya dikelilingi handphone2! hehe…).
Walaupun saat ini industri ICT hanya berhasil berkontribusi sebesar 2.5% dalam mengurangi efek gas rumah kaca[1], tetapi ICT dapat memungkinkan adanya teknologi bagi sektor lain untuk mengurangi efek gas rumah kaca secara signifikan, misalnya dalam teknologi smart building, smart grid, reduce travel, reduce waste, meningkatkan efisiensi energi, dll. Pak Malcolm Johnson, Director Telecommunication Standardization Bureau International Telecommunication Union (ITU), mengatakan bahwa ITU telah melakukan standardisasi universal mobile charger to reduce e-waste. So we will “no longer need to buy a charger with every mobile phone. It is estimated this alone will reduce e-waste by 82,000 tons a year!”.
Selain itu, Pak Luis Neves, the Chairman of the Global e-Sustainability Initiative (GeSI) yang juga menjabat sebagai Vice-President of Corporate Responsibility at Deutsche Telekom, menyatakan bahwa “GeSI’s landmark report “SMART 2020- Enabling a low-carbon economy in the information age” showed that ICT solutions can enable global carbon reductions of up to 15% and create and create up to 15 million green jobs globally by 2020. Most importantly SMART 2020 showed that while the ICT sector’s own contribution to global emissions amounts to around 2%, ICT plays an important role in providing solutions that enable other sectors reduce the remaining 98% of emissions.”
Jika dilihat berdasarkan sumbernya, emisi CO2 terbesar dari ICT adalah dari penggunaan PCs dan monitor yaitu 40% jika dibandingkan dengan server (23%), fixed line telecoms (15%), dan mobile telecoms (9%) [1]. Tetapi dengan memanfaatkan penggunaan ICT pada sektor lainnya, efek gas rumah kaca dapat ditekan secara signifikan jika dibandingkan dengan energi dan biaya yang terbuang tanpa memanfaatkan ICT. Indonesia termasuk salah satu negara yang berfungsi sebagai paru-paru dunia bersama dengan Brazil, namun juga berkontribusi besar terhadap fenomena perubahan iklim dan juga sebagai korban dari dampak tersebut, apalagi Indonesia adalah negara kepulauan yang tergolong negara berkembang. Namun implementasi program untuk minimalisasi efek rumah kaca belum terealisasi dengan jelas meskipun di dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional disebutkan bahwa Indonesia akan meningkatkan kapasitas nasional untuk beradaptasi terhadap isu perubahan iklim dalam aspek pembangunan. Selain itu, Indonesia juga memiliki kebijakan dan peraturan yang sudah cukup banyak dan baik mengenai sustainable environment. Tetapi semua itu kemudian menjadi sia-sia saat peran pemerintah dalam law enforcement tersebut masih sangat lemah.
Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Pak Berth Kambuaya, pemerintah tidak dapat bertentangan dengan industri dalam hal pelestarian lingkungan “because that will not be fair for the employment and developments that the industries have created over many years. Of course we will penalize those with ill intentions. Rather, as much as possible, our approach is to reward industries, companies, and individuals who have gone beyond their bottom line to becoming more environmentally friendly. It is not how big they give away for the planet that matters for us. But rather how concrete, measurable, and proven their efforts are”.
Pak Menristek, Gusti Muhammad Hatta juga menyatakan mendukung sepenuhnya Green ICT inisiatif ini. “We are ready to support not only at more events like today, but also to convert discussion into reality. Not only for us in Indonesia, but also for millions of other consumers throughout the world. With the new green ICT initiative I really hope Indonesia can paint a new picture for the world. The picture where Indonesia is the center of a new consumer revolution that is technology savvy and environmentally friendly.”
Pak Malcolm Johnson juga menyebutkan bahwa Indonesia is leading the way… “Indonesia committed to cut emissions by 26% relative to business-as-usual voluntarily and unilaterally by 2020, and by up to 41% with international assistance.”
“…the bottom line is whether at the end of the day we will all meet our political and moral responsibility and do what is practically necessary to ensure climate stability for future generations and for planet earth.” (H.E. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono)
Dengan demikian pemerintah seharusnya lebih serius lagi dalam menindaklanjuti perencanaan program jangka pendek dan menengah yang tepat sasaran untuk memenuhi komitmen tersebut, karena hal itu juga menyangkut tanggung jawab moral dan politik. Selain itu, pemerintah juga tetap harus mempertimbangkan kapasitas masyarakat yang terkena dampak kebijakan, terutama terkait harga barang-barang yang mungkin akan menjadi lebih tinggi jika environmental cost dibebankan pada harga barang, Analisis perlu dilakukan untuk mengetahui apakah kebijakan tersebut akan berdampak terhadap stabilitas perekonomian nasional? dan apakah berdampak besar terhadap kesejahteraan masyarakat? strategi apa yang dapat mencapai win2 solution? Paling tidak pemerintah harus menyiapkan beberapa skenario agar dampak buruk dapat diminimalisasi. May be it sounds complicated since there is thinking framework that environment and economic sectors will never grow together. However in reality, they can. History has proved it. Environmental injustice at some areas has led to chaos so that in the end the government and industries got so many disadvantages and they had to take action to repair those environmental damage in more complicated way.
Sebagai masyarakat, dengan dukungan dari berbagai pihak tersebut saya rasa kita juga dapat berkontribusi melalui ide dan inovasi nyata untuk memanfaatkan ICT dengan baik dalam berbagai hal. It’s not just about smart building, smart grids, smart devices, and another smart things, but also we have to become smart community to improve the betterment of our life. I think we all agree that “We don’t inherit the earth from our ancestors, We borrow it from our children” so that sometime we will have to give it back to them in such good condition, as good as it is when we received it.
[1] Dr.Setyanto P. Sentosa, Chairman of Indonesia’s ICTs Society. ICT Enablement – Sustainability through Connectivity.
Tuesday, December 13, 2011 | Labels: event/contest, inspirasi | View Comments
Taman Perumahan dan Alun-alun Kota
Kabupaten Bekasi merupakan wilayah penyangga Kota Bekasi yang merupakan salah satu Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dimana di sebelah baratnya berbatasan langsung dengan DKI Jakarta dan Kota Bekasi. Pada tahun 1996, Kabupaten Bekasi resmi terpisah dari Kota Bekasi untuk meningkatkan pemerataan pembangunan antara Bekasi bagian timur dan barat. Pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi pun resmi dipindahkan ke Kota Deltamas sesuai Peraturan Pemerintah No.82 Tahun 1998.
Ruang publik terbuka khususnya ruang terbuka hijau merupakan salah satu kebutuhan masyarakat perkotaan saat ini yang sekaligus menjadi paru-paru kota. Di ruang terbuka publik itu, warga dapat bersosialisasi melalui berbagai kegiatan seperti olahraga, bercengkerama, rekreasi, diskusi, pameran/bazar, dan lainnya. Anak-anak juga bisa bermain dengan leluasa di bawah teduhnya pohon-pohon yang rimbun. Singkatnya, ini menjadi tempat rekreasi dan olahraga yang menyenangkan tanpa harus mengeluarkan biaya. Hal ini sudah menjadi hal yang langka sepertinya di kotaku, Bekasi.
Sejak kawasan perkotaan Bekasi terpisah menjadi Kota dan Kabupaten Bekasi, di wilayah kami yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Bekasi belum ada ruang terbuka publik yang seharusnya disediakan pemerintah. Bahkan Kota Bekasi sekalipun tidak memiliki ruang terbuka publik yang digunakan secara efektif. Hal ini terbukti dari perjalananku bersama seorang kawan menyusuri wilayah Kota Bekasi. Dari mulai hutan kota yang ada di Gelanggang Olahraga Bekasi, taman alun-alun Kota Bekasi, dan lapangan Persikasi. Untuk hutan kota yang ada di GOR, keadaannya sepi pengunjung saat sore hari di akhir pekan kami kesana. Fasilitas hutan kota tersebut memang jarang digunakan oleh masyarakat sekitar. Yang sering digunakan adalah fasilitas olahraga di sekitar taman tersebut seperti lapangan sepak bola, gelanggang renang, lintasan sepatu roda, dan lain-lain. Fungsi hutan kotanya sendiri pun terabaikan.
Rencana Pengembangan Celebration Plaza
sumber: dokumentasi tim
Hal ini mungkin dikarenakan penataannya yang kurang baik. Begitu juga taman yang berada di dekat alun-alun kota Bekasi. Hanya dimanfaatkan oleh segelintir orang, dan fasilitas di sana yang paling sering digunakan adalah lapangan sepak bola. Serupa dengan yang kami lihat sebelumnya, di lapangan Persikasi pun, hanya dimanfaatkan untuk aktivitas olahraga yaitu sepak bola, ketimbang untuk dijadikan tempat bersantai berkumpul bersama keluarga ataupun teman-teman. Mungkin karena warga Bekasi memang lebih suka memanfaatkan lahan terbuka untuk olahraga ya, hehe..
Jika dibandingkan dengan ruang terbuka publik di Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi memiliki beberapa taman yang lebih baik yang digunakan secara lebih efektif dan terpelihara, misalnya saja plaza celebration di Grand Wisata, Botanical Garden di Jababeka dan taman-taman di perumahan lainnya. Namun sayangnya taman-taman tersebut bukan dikelola oleh pemerintah, melainkan milik perusahaan swasta para pengembang perumahan. Salah satu taman yang menurut kami paling luas dan berfungsi seperti layaknya alun-alun kota bahkan lebih luas mungkin, adalah Celebration Plaza di kawasan Grand Wisata. Taman ini berada di dekat pintu tol masuk Tambun, tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Kami melihat taman ini dimanfaatkan oleh masyarakat baik yang berasal dari dalam kawasan perumahan Grand Wisata maupun dari luar kawasan secara efektif untuk berbagai aktivitas, seperti senam, lari pagi, bersepeda ataupun sekedar untuk bersantai saja.
Penataan taman yang menarik, nyaman, dan luas sepertinya telah menarik minat sebagian besar masyarakat di wilayah Tambun dan sekitarnya. Di tengah kepadatan penduduk dan lalu lintas ditambah semakin padatnya industri di Kabupaten Bekasi, tingkat pencemaran dan suhu udara pun meningkat sehingga ruang terbuka publik pun menjadi semakin penting peranannya. Meskipun demikian, pemerintah sepertinya kurang memperhatikan akan kebutuhan masyarakat yang satu ini.
Kondisi Saat Ini di Celebration Plaza
sumber: dokumentasi tim
Plaza adalah ruang publik terbuka (open air), biasanya minimal ada satu bangunan yang menyertainya, kadang dikelilingi bangunan lain. Dalam terminologi budaya kita dikenal sebagai alun-alun, sebuah ruang publik terbuka yang dibatasi oleh bangunan pemerintahan, masjid, penjara dan pasar. Plaza memang difungsikan untuk kegiatan publik warga, atau festival tertentu yang juga disebut fiesta, juga tempat acara kemiliteran hingga tempat berkumpul di saat darurat menimpa*.
Setiap hari sabtu dan minggu tempat ini sangat ramai pengunjung. Selain itu, di dekat plaza ini juga terdapat banyak stand makanan yang menjual makanan khas Nusantara yang hanya ada pada Hari Sabtu dan Minggu. Keindahan, keserasian dan keselarasan lingkungan merupakan citra penting sebuah daerah. Hal tersebut bukanlah suatu masalah jika penataan ruang sejalan dengan pemanfaatannya. Lingkungan juga merupakan salah satu strategi city marketing yang efektif yang mampu menarik wisatawan secara signifikan. Namun yang terpenting tetap bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal dengan menyediakan fasilitas umum dan sosial yang berkualitas dan handal sehingga pemerintah mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat dan tidak hanya berfokus pada pembangunan mall, central business district (CBD) dan industri.
sumber: dokumentasi tim
*http://yulian.firdaus.or.id/2006/02/09/plaza/
Kelompok:
Dita Rama Insiyanda: http://ditarama.multiply.com
Ika Rahmawati: http://iiikkaaa.blogspot.com
Yuanita Handoko: http://yuanitahandoko.blogspot.com
Sunday, November 20, 2011 | Labels: miscellaneous | View Comments
Qurban Nabi Ibrahim A.S
Setelah Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim A.S dari tungku api Namrud, sebagai wujud rasa syukur beliau memotong seribu ekor domba jantan, tiga ratus ekor sapi, dan seratus ekor unta, dan menyedekahkan dagingnya. Tidak ada seorang pun yang sebelumnya pernah mendengar tentang adanya seorang pengurban yang begitu dermawan.
Ketika ditanya kenapa dia rela mengurbankan kekayaan yang begitu banyak, Ibrahim A.S menjawab, “Aku telah siap mengurbankan nyawa bagi Tuhanku. Kenapa aku harus keberatan mengurbankan harta? Lagipula, milik siapa itu semua sebenarnya? Pemilik hidupku dan segala sesuatu yang aku punya adalah Allah. Apa yang telah aku berikan tidak ada artinya. Aku bahkan bersedia mengurbankan milikku yang paling berharga untuk Allah. Jika aku punya seorang putra, aku bahkan bersedia mengurbankannya jika Allah menghendaki.”
Bagaimana dengan kita? Adakah di antara kita yang mampu mengatakan hal yang sama? Dan walaupun engkau tidak berada pada tingkatan Nabi Ibrahim A.S, seberapa ikhlaskah engkau mengurbankan, bahkan cuma sebagian, harta yang telah Tuhan limpahkan kepadamu, memberikan milikmu sebagai sedekah demi melayani orang lain? Bahkan sebenarnya, orang yang tidak mau menolong orang lain atau meremehkan makna sedekah, ia bukan seorang manusia; apalagi menjadi seorang sahabat Tuhan*.
*Nabi Ibrahim memiliki julukan “Sang Sahabat Tuhan” (Khalilullah)
Beberapa tahun kemudian, Allah menganugerahi Nabi Ibrahim A.S seorang putra bernama Ismail. Ismail telah menunjukkan ciri-ciri kenabian sejak masih kanak-kanak. Dia sering bepergian kemana-mana bersama ayahnya, dan walaupun masih kanak-kanak, sering terlibat dalam diskusi yang rumit tentang agama.
Pada suatu saat, dalam sebuah mimpi Allah mengatakan kepada Nabi Ibrahim A.S, “Penuhilah janjimu! Engkau berkata jika engkau mempunyai seorang putra, engkau akan mengurbankannya untuk-Ku. Engkau harus memenuhi janjimu.” (berbeda dengan Injil, dalam versi Qur’ani Nabi Ibrahim A.S diminta untuk mengurbankan putra sulungnya Ismail A.S dan bukan Ishaq A.S)
Keesokan harinya Nabi Ibrahim A.S menafakuri mimpinya semalam. Walaupun bukan untuk pertama kalinya Allah berkata-kata kepadanya dalam mimpi, dia menyadari bahwa Allah melarang pengurbanan manusia, dan tidak ada seorang nabi pun sebelumnya yang pernah diperintahkan untuk mengurbankan manusia. Karena itu, sebagai gantinya, beliau mengurbankan seratus ekor unta.
Malam itu Allah berkata-kata lagi kepadanya melalui mimpi, dan kembali memerintahkan kepadanya untuk memenuhi janjinya. Lagi-lagi dalam tafakurnya keesokan harinya, Nabi Ibrahim A.S merenungkan bahwa Allah tidak pernah menginginkan pengurbanan manusia. Maka sekali lagi beliau pun mengurbankan seratus ekor unta.
Di malam ke tiga Allah kembali memerintahkan Ibrahim untuk mengurbankan anaknya satu-satunya. Di pagi berikutnya ia memutuskan bahwa ia harus melaksanakan perintah Allah itu.
Nabi Ibrahim A.S mengajak putranya Ismail A.S untuk menemaninya ke tempat pengurbanan. Di perjalanan, Iblis menampakkan diri kepada Ibrahim A.S dan mempertanyakan perintah Allah itu. “Apa kau benar-benar akan memotong leher putramu satu-satunya? Bahkan binatang pun tidak akan tega melakukan hal seperti itu.” Kata Ibrahim, “Walaupun alasanmu tampaknya rasional dan masuk akal, telah aku terima perintah dari Allah, dan kehendak-Nya akan aku laksanakan!”
Iblis pun meninggalkan Nabi Ibrahim A.S, tetapi dia tidak menyerah. Ia datangi Siti Hajar R.A, Ibunda Ismail A.S, Iblis mengatakan kepadanya bahwa Ibrahim A.S akan mengurbankan satu-satunya putra Siti Hajar R.A. Siti Hajar R.A pun menjawab bahwa suaminya Ibrahim A.S benar-benar seorang nabi yang memahami kehendak Allah dan pasti akan melaksanakan perintah Allah. Dia bahkan mengatakan bahwa dia sendiri pun siap mengurbankan hidupnya, jika Allah memang menghendaki. Ia pun mengusir iblis darinya.
Akhirnya iblis berusaha memengaruhi Ismail A.S. Dia menampakkan diri kepada anak itu, dan mengatakan bahwa ayahnya akan mengikatnya di altar pengurbanan untuk memotong lehernya.
Iblis mengatakan bahwa ayahnya berkhayal bahwa Allahlah yang memerintahkannya untuk melakukan itu. Ismail kecil menjawab bahwa ayahnya adalah sungguh-sungguh seorang nabi yang memahami kehendak Tuhan, dan tidak berkhayal tentang hal seperti itu. Ismail A.S mengatakan bahwa dia sepenuhnya telah siap mempersembahkan hidupnya sendiri, jika memang Allah memerintahkan hal itu.
Sekali lagi iblis mempertanyakan Ismail A.S apa ia memang benar-benar mau dipotong lehernya oleh ayahnya. Dengan sangat marah, Ismail A.S membentak, “Apabila Allah benar-benar telah memerintahkan hal ini kepada ayahku, dia pasti telah diberi kekuatan untuk melaksanakan kehendak Allah. Dan demikian pula Aku!” Lalu ia mengambil batu dan melemparkannya kepada iblis, sehingga iblis buta sebelah matanya.
Iblis selalu berusaha menggoda kita dengan cara yang sama. Dia mencoba memengaruhi pikiran kita, mengajukan alasan-alasan bahwa Tuhan tidak benar-benar menginginkan kita melakukan hal-hal yang sulit maupun membutuhkan segala daya upaya. Dia juga akan mencoba memengaruhi lewat rasa kasihan kita, lewat bagian dari diri kita yang lebih lemah, atau mengajukan argumen bahwa kewajiban-kewajiban tertentu akan memberi beban yang terlalu menyakitkan atau terlalu berat pada diri kita maupun orang lain. Dia akan membuat kita bingung, menanam bibit keraguan, dan membuat kita takut untuk melaksanakan kehendak Allah.
Di dalam pelaksanaan haji di Mekkah, seluruh jamaah haji pergi ke Mina dan melemparkan batu ke arah tiga buah pilar di sana. Di Mina lah dahulu Nabi Ibrahim A.S mengurbankan Nabi Ismail A.S. Ketiga pilar itu menyimbolkan tiga penentangan terhadap iblis oleh Nabi Ibrahim A.S, Siti Hajar R.A, dan Nabi Ismail A.S. Ke setiap pilar, tujuh buah batu dilemparkan, mewakili penolakan jamaah haji atas tujuh sifat buruk, yaitu merasa diri paling benar, bangga diri, munafik, iri, amarah, riya, dan tamak.
Sesampainya di tempat pengurbanan, Nabi Ibrahim A.S menyampaikan mimpinya kepada Ismail A.S. Alih-alih memaksa putranya ke altar, Nabi Ibrahim A.S malah menanyakan kesediaan anaknya apakah ia ikhlas memenuhi perintah Allah dan bersedia mengajukan dirinya sendiri sebagai persembahan. Melalui ketundukan kepada ayahnya, Ismail A.S mengajarkan kepada kita semua sebuah teladan keberserahdirian, bahkan hingga bersedia mempersembahkan hidup kita sendiri, demi kecintaan kita kepada Allah dan ketaatan kepada orang tua kita.
Walaupun kita seharusnya bersedia melakukan apa saja dalam rangka kepatuhan kepada orang tua—demi ketaatan kepada Allah—, kita tidak boleh taat jika hal yang mereka minta tidak sesuai dengan kehendak Allah. Meski kesantunan dan rasa hormat harus tetap dijaga, kita tetap harus menolak mematuhi siapa pun yang meminta kita untuk menentang kehendak-Nya.
Ismail A.S bersedia untuk dikurbankan. Dia meminta Nabi Ibrahim A.S mengikatnya erat-erat dengan tali, supaya gerakan-gerakannya ketika sekarat nanti tidak akan melukai ayahnya. Dia juga meminta ayahnya untuk membaringkannya menelungkup sehingga Nabi Ibrahim A.S tidak perlu melihat wajahnya, yang bisa membuat tangannya menjadi gemetar sehingga tidak sanggup mengiris daging lehernya. Ismail A.S juga meminta ayahnya untuk menyingsingkan jubahnya, sehingga ia tidak pulang ke rumah dengan jubah yang ternodai cipratan darahnya, yang hanya akan menambah kesedihan ibunya.
Nabi Ibrahim A.S bersedia memenuhi permintaan anaknya, dan sangat terharu karena keyakinan dan bakti putranya. Ia baringkan putranya di altar, lalu memohon kepada Allah agar merahmati dirinya dan putranya. Pada saat Nabi Ibrahim A.S mengangkat pisaunya, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, “Saksikanlah keyakinan dan cinta Ibrahim, khalil**-Ku. Dia bahkan bersedia mempersembahkan satu-satunya putranya, demi memenuhi perintah-Ku.”
**sahabat
Setelahnya, dengan pisau sembelihan yang setajam silet, Nabi Ibrahim A.S mengiris leher putranya. Tapi tidak terjadi apa-apa. Bahkan tidak ada goresan sedikitpun di leher Ismail A.S. Ibrahim A.S mencoba lagi, tetapi hasilnya sama saja. Bahkan pada yang ke tiga kalinya, pisau itu tetap tidak mampu mengiris. Ibrahim A.S pun membanting pisau itu sehingga menghantam sebongkah batu di dekatnya. Batu itu terbelah menjadi dua ketika terhantam sisi tajam bilah mata pisaunya.
Saat itu Allah memberikan kemampuan kepada pisaunya untuk berbicara. “Saksikanlah wahai Ibrahim, hanya izin Allah yang menjadikan pisau mampu memotong, api mampu membakar, dan air mampu membasahi. Tanpa izin-Nya aku tidak mampu memotong apa pun. Dan jika Allah menghendaki, aku bahkan mampu memotong batu.”
Lalu hadirlah Jibril A.S di hadapan Nabi Ibrahim A.S, mewahyukan bahwa Allah menghendaki Ibrahim A.S untuk berkurban seekor domba jantan sebagai pengganti Ismail A.S, dan menyampaikan bahwa Allah telah ridha kepada mereka berdua.
…………………………….
tulisan di atas dikutip dari sebagian bab delapan: keberserahdirian; buku “Cinta bagai Anggur” yang dikompilasikan oleh Syaikh Ragip Frager, PH.D dari tuangan hikmah oleh seorang guru sufi di Amerika, Syaikh Muzaffer Ozak, dialih bahasakan oleh Nadia Dwi Insani, Herman Soetomo, dan Herry Mardian.
Selamat Idul Adha 1432 H
Monday, November 07, 2011 | Labels: islam, kisah inspiratif | View Comments
sumber: 